Tampilkan posting dengan label sastra. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label sastra. Tampilkan semua posting

Jumat, 03 Oktober 2014

Karya-karya Pramoedya (2)

Selain Tetralogi yang ditulis Pram pada masa pengasingannya di pulau Buru, beliau juga menulis novel-novel lainnya yang juga sangat layak dan patut dibaca. Tiga di antara sekian puluh novel yang beliau tulis, dan hampir menjadi bacaan wajib penggemar sastra adalah Gadis Pantai dan Arok Dedes. Namun, ada juga novel yang beliau tulis dalam bentuk naskah drama, yaitu Mangir yang mengisahkan mengenai sebuah desa perdikan yang sulit ditaklukan oleh Mataram pada masa itu.



Gadis Pantai
Gadis Pantai merupakan novel yang ditulis oleh Pramoedya berdasarkan kisah neneknya sendiri. Di sini, diceritakan mengenai seorang Gadis Pantai yang menjadi (istilah sekarang) selir dari seorang priyayi yang pada akhirnya mengandung dan melahirkan anak bagi bangsawan tersebut. Namun, karena yang dilahirkannya adalah seorang perempuan, bangsawan tersebut marah dan akhirnya mengembalikan gadis pantai pada keluarganya. Di dalam buku ini, kita akan dihadapkan pada ironi dan kemirisan hidup seorang wanita di zaman dahulu, di mana dengan mudah seorang wanita ibarat menjadi barang yang seenak hati dipilih kemudian bisa dicampakkan sesuka hati. Novel Gadis Pantai sebenarnya terdiri dari 3 novel, tetapi karena suatu hal, pada masa orde baru, kedua novel lainnya dibakar dan dihancurkan.



Arok Dedes
Arok Dedes mengisahkan kembali cerita mengenai zaman singosari akan terbangun. Pram memiliki pikirannya sendiri mengenari Arok Dedes ini. Tidak ada hal mistis di dalam buku ini, seperti di cerita-cerita dalam buku sejarah. Cerita murni soal pemberontakan dan intrik-intrik politik antara Arok (yang diceritakan sangat cerdas dan pintar) yang berusaha merebut kepemimpinan Tunggul Ametung. Ceritanya benar-benar bagus. Kita disuguhi intrik politik dalam kerajaan, serta latar cerita yang terjadi bertahun-tahun lampau itu pun terlihat sangat meyakinkan. Di dalam cerita ini, kita disuguhi berbagai filosofi hidup yang penuh makna.



Mangir
Drama mangir mengisahkan mengenai sebuah desa perdikan yang dipimpin oleh seorang Wanabaya yang berkeras tidak ingin bergabung dengan kerajaan Mataram. Karena hal tersebut, akhirnya sultan Mataram pun mengirimkan telik atau mata-mata yaitu putrinya sendiri untuk merayu Wanabaya dan menggodanya. Sehingga pada akhirnya Wanabaya pun terpikat pada Pambayun. Namun, pada akhirnya, pambayun justru jatuh cinta pada suaminya sendiri.

Berbeda dengan Arok Dedes dan Gadis Pantai, Mangir ditulis berupa teks drama. Dan, sebelum disuguhi teks drama itu, kita akan disuguhi beberapa tokoh dalam drama seperti wanabaya, pambayun, sultan, lalu ada lagi Baru Klinthing yang pintar dan panjang akalnya. Pernah dengar nama Baru Klinthing? Dia yang ada di dalam legenda-legenda, yang dikatakan berbentuk seperti ular.

Tidak lengkap rasanya kalau membaca buku tanpa membaca buku-buku Pram yang sarat makna dan filosofi kehidupan. Mari membaca!

Karya-karya Pramoedya




Kita tentu sudah tidak asing dengan sosok sastrawan Indonesia bernama Pramoedya yang lebih dikenal dengan nama Pramoedya Ananta Toer. Beliau lahir dari seorang Ayah yang bekerja sebagai guru atau juru tulis dan Ibu yang berdagang nasi. Lika-liku kehidupan beliau jalani, pernah diasingkan di pulau Buru, menjadi ketua LEKRA, berseteru dengan sesama sastrawan pun pernah menjadi bagian dari hidup beliau.

Namun, sekalipun banyak sekali aral melintang dan hambatan-hambatan menghadang, terutama dalam masa orde baru, beliau tetap tekun menulis hingga menghasilkan puluhan novel, yang sebagian telah diterjemahkan dalam bahasa asing. Kebanyakan dari buku-bukunya bertema nasionalis dan kebangsaaan, yang membawa pembaca untuk lebih mencintai tanah airnya sendiri. Roman paling terkenal dari buatan beliau adalah tetralogi pulau buru. Berikut adalah karya-karya Pram yang bisa disimak :

1. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca (Tetralogi Pulau buru)
Keempat novel di atas memiliki tema nasionalisme dan percintaan, di mana tokoh utama yang bernama R.M. Minke (julukan itu merupakan nama pemberian gurunya Meneer Rooseboom karena jengkel akan kebodohannya sewaktu kelas awal saat sekolah di E.L.S.  Namun setelah beranjak dewasa ia menjadi seorang pemikir dan seorang yang terobsesi dengan ilmu pengetahuan dan kemajuan zaman.) yang hidup dalam masa penjajah kolonial pemerintah Belanda. Di mana, pada waktu itu menjadi Belanda merupakan hal paling membanggakan bagi pribumi.


Dalam novel pertama yaitu Bumi Manusia berisi mengenai kondisi pribumi yang begitu terpuruk dalam cengkraman Kolonial. Adanya pergundikan, munculnya kelas-kelas sosial di kalangan masyarakat, serte pengotak-ngotakan rasa-ras yang pada akhirnya menempatkan pribumi pada tempat terendah setelah kaum totok, peranakan, cina dan arab, serta kaum priyayi. Kemerosotan moral pribumi serta penindasan yang semena-mena inilah yang menggugah Minke untuk mulai melawan melalui tulisan-tulisan di surat kabar.


Dalam novel kedua, yaitu Anak Semua bangsa mengisahkan pertemuan langsung Minke yang seorang priyayi yang merupakan siswa HBS Surabaya serta realita di lapangan. Trunodongso, seorang petani yang menolak tanahnya disewakan secara paksa pada perusahaan gula milik kolonial semakin menggugah kesadaran Nasionalnya. 


Pada novel ketika, Jejak Langkah, pribadi Minke semakin matang. Di buku ini, Minke menemukan bentuk perlawanan terhadap kolonialisme, yaitu dengan organisasi dan pers yang membuat pemeriantah kolonial kebakaran jenggot. Setelah itu, pada buku terakhir, yaitu rumah Kaca, merupakan periodisasi pemberantasan pergerakan-pergerakan pribumi oleh pemerintah kolonial. Berbeda dari ketiga buku sebelumnya yang menjadikan Minke sebagai tokoh utama, dalam buku ini, J. Pangemanann, seorang agen kepolisian kolonial yang juga sahabat Minke, ditugaskan untuk memadamkan perlawanan pribumi. Pergolakan batinnya membuat Rumah Kaca begitu sarat pesan moral.

Bersambung....

(diolah dari berbagai sumber)